gambar: Wikpedia.org Lagu Anak Tentang Pengenalan Aneka Warna
Mungkin sebagian dari kita tidak tau bahwa warna juga mempengaruhi perkembangan kepribadian anak. Setiap warna memiliki manfaat yang unik. Oleh karenanya, sebagai orang tua kita harus tahu manfaat-manfaat dari setiap warna, supaya buah hati kita bisa bertumbuh secara maksimal.
Merah Menstimulasi dan melancarkan peredaran darah. Ia juga membantu melawan udara dingin. Warna ini tidak disarankan untuk bayi yang baru lahir namun baik untuk bayi yang sudah beranjak besar agar ia lebih aktif dan bersemangat.
Oranye Warna ini dipercaya dapat memperkuat paru-paru, pankreas, dan limpa. Warna hangat ini juga dipercaya mampu meningkatkan vitalitas dan nafsu makan. Untuk balita, ia bisa merangsang semangat bermain dan eksplorasi hal-hal baru.
Kuning Warna ini dikatakan dapat membantu meningkatkan sistem syaraf dan kecerdasan. Ia membantu mengatasi kecemasan dan depresi pada anak. Pada balita, warna kuning cerah mampu menstimulasinya agar lebih aktif, namun untuk bayi, kuning pastel dapat membuatnya tersenyum.
Pink Pada anak-anak, warna ini menstimulasi kreativitas dan kekuatan. Ia juga meredam amarah dan kepanikan. Jika Anda mengalami insomnia, gunakan sprei pink pucat. Walaupun sering digunakan untuk bayi perempuan, sprei pink pucat juga baik untuk bayi lelaki.
Hijau Warna ini menyimbolkan keharmonisan hidup, kesegaran dan pencerahan. Ia juga membantu meredakan tekanan darah, gangguan jantung, sakit kepala dan flu pada orang dewasa. Untuk bayi, warna ini dapat membantunya tenang dan rileks sehingga banyak digunakan sebagai aksesori bayi.
Biru Efeknya kebalikan dari warna merah. Efek sejuknya dapat membantu tubuh melawan penyakit dan sembuh dari syok. Jika bayi Anda terlihat gelisah coba pakaikan selimut warna biru muda, itulah sebabnya ada warna dengan sebutan baby blue.
Ungu Efeknya menenangkan dan memberikan kedamaian hati. Dikatakan dapat meningkatkan sisi spiritual dan naluri pada bayi. Ia juga dipercaya dapat melawan kegelisahan dan gangguan mental.
Putih Warna netral ini dikatakan tidak memiliki efek apa-apa, namun banyak digunakan oleh budaya manapun. Di budaya timur tengah, warna ini melambangkan kesucian, kedamaian dan keamanan, sedangkan di kultur lainnya, ia mewakili ketenangan, kejujuran dan kesederhanaan. Penuh makna namun siapkan budget laundry Anda karena perawatan warna putih sangat merepotkan (sumber: wolipop.com)
Setelah kita mengetahui manfaat dari masing-masing warna, tentu kita menjadi tertarik untuk mengenalkan aneka warna kepada buah hati kita bukan? Dan tentunya membutuhkan cara-cara yang kreatif dan menyenangkan, agar buah hati kita pun semakin bersemangat dalam mengenal macam-macam warna yang ada di dunia ini. Kak Zepe sudah memiliki beberapa lagu anak yang sangat cocok digunakan sebagai media pengajaran macam-macam warna. Lagu-lagu tersebut berjudul:
Selamat belajar, dan mengajarkannya kepada buah hati anda..
Salam cinta lagu2anak...
Info Tambahan: 1. Dapatkan lagu Anak KArya Kak Zepe lainnya dengan Download Gratis di SINI 2. Butuh Lirik dan Lagu Anak Islam? Silakan Klik di SINI 3. Macam-Macam Tepuk Anak Yang Mencerdaskan? Silakan klik di SINI
Silakan Mempublikasikan Karya-karya Saya dengan mencantumkan: Karya Kak Zepe, lagu2anak.blogspot.com
Mengenalkan bentuk dan warna pada benda merupakan hal yang sepele. Namun bukan berarti kita boleh menyepelekan. Karena pengenalan bentuk dan warna adalah salah satu ilmu dasar yang harus diketahui dan dikuasai anak. Bayangkan saja saat kita bertanya kepada anak, "Buah yang berwarna merah di atas meja itu namanya apa?" Lalu buah hati kita malah bertanya,"Warna merah itu apa Ma?" Sahabat Kak Zepe, dalam artikel ini, Kak Zepe akan memperkenalkan sebuah lagu yang bisa membantu anak mengenal bentuk / macam benda dan aneka warna. Lagu Anak Karya Kak Zepe kali ini berjudul: "Warna Benda". Tentu saja lagu ini masih berhubungan dengan lagu anak karya Kak Zepe lainnya yang bisa digunakan sebagai media mengajar aneka warna, "Warna Pelangi". Lagu berjudul "Warna Benda" ini memang sangat sederhana, namun besar manfaatnya. Mari kita simak....
Di usia batita, menurut Drs. Hapidin, MPd . , anak memang harus dikenalkan pada bentuk dan warna. "Malah, pengenalan bentuk dan warnamerupakan salah satu komitmen pendidikan yang dilontarkan oleh pakar pendidikan dari Jerman, John Hendrick Pestalozzi. Dia mengatakan, pembelajaran pada anak batita harus menekankan pada AVM, yaitu Auditory, Visual dan Memory," tutur Ketua Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Fakutas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta ini.
Soalnya, pengenalan AVM sangat berpengaruh pada perkembangan intelektual anak. Hasil penelitian menunjukkan, pengetahuan yang kita miliki, 74 persennya diperoleh dari kemampuan visual, 12 persen dari pendengaran, dan sisanya dari sumber pengetahuan lain. Itulah mengapa, pengembangan auditori-visual (pendengaran-penglihatan) merupakan pintu gerbang untuk masuknya pengetahuan dan berkembangnya semua fungsi intelektual anak.
SEJAK USIA 40 HARI
Sebenarnya, ujar Hapidin, pengenalan ini sudah bisa dimulai saat bayi usia 40 hari atau malah 2 minggu, "karena saat itu bayi mulai 'melihat' dunia luar dengan jelas sehingga akan berpengaruh pada kemampuan mengingat atau memorinya." Tapi pengenalan di usia 40 hari ini bukan berarti an sich pada usia itu, lho. Maksudnya, inilah saat tepat bagi orang tua untuk menguji apakah kemampuan mengamati melalui matanya dan kemampuan auditori bayinya normal atau tidak. "Nah, ini, kan, enggak perlu harus ke dokter untuk serangkaian tes yang butuh waktu dan biaya tak sedikit."
Dengan pengenalan itu, lanjutnya, kita bisa memperoleh manfaat ganda, yakni mengecek pendengaran dan penglihatan bayi sekaligus mengasah kemampuannya. Misal, dengan menggunakan kerincingan warna-warni. "Perdengarkan dari sebelah kiri dan kanan. Kalau fungsi auditorinya berjalan bagus, pasti ia akan segera mencari-cari dan menoleh pada bunyi kerincingan itu. Nah, sewaktu ia melihat benda tersebut, bukankah ia 'belajar' mengenal warna dan bentuk sekaligus berorientasi pada bunyi?"
Namun dalam memperkenalkan warna pada bayi, hendaknya warna primer atau dasar dulu, yaitu merah, biru, dan kuning. Pengenalannya pun satu per satu, baru kemudian kombinasi dua warna, dan seterusnya kombinasi tiga warna. "Pengenalan ini akan terekam dalam ingatan anak."
Selanjutnya, proses pengenalan kembali atau recognizing mengenai warna akan didapat anak melalui interaksi sosial. Misal, "Sepatu Adek yang warna kuning mana, ya?" Hendaknya pengenalan kembali diaktifkan sejak anak usia 1 tahun, yaitu ketika ia mulai bersosialisasi dengan lingkungannya. Menurut Hapidin, jika orang tua telaten, hasilnya akan tampak kala anak usia 1-2 tahun. Ketika diminta mengambilkan/menunjukkan sebuah benda berwarna merah, misal, ia bisa melakukannya dengan benar. Jadi, tak perlu lagi kita berteriak mendiktenya, "Perhatikan, ya, ini warna merah!" Begitu pula dengan pengenalan bentuk, sebaiknya juga dikenalkan sedini mungkin. Meski saat itu anak pasti belum mengerti apa bentuk benda yang dipegangnya, biarkan ia meraba-raba bantal dan gulingnya, kerincingan, dan "radio" kesayangannya yang berbentuk boneka atau binatang lucu. Pengenalan sederhana inilah yang kelak akan menuntunnya untuk mengenal aneka bentuk benda.
KENALKAN SEMUA BENTUK
Hapidin yakin, kemampuan arsitek seni tata warna dan tata letak bisa sedemikian berkembanghingga menghasilkan karya yang bagus sekali bila sejak bayi sudah diberikan pengenalan. "Anak, kan, enggak mungkin bisa membedakan mana yang segitiga, segi empat, lingkaran, silinder, atau setengah lingkaran, dan sebagainya kalau sebelumnya ia tak pernah mengenal bentuk-bentuk tersebut." Jadi, tegasnya, memang harus distimulasi karena kemampuan itu enggak datang tiba-tiba dengan sendirinya.
Dengan demikian, saat masuk usia sekolah bukan tak mungkin anak sudah pandai membuat rancang bangun sederhana dari berbagai bentuk dan bidang. Kemampuan imajinasinya pun semakin "hidup", hingga ia bisa berteriak bangga, "Eh, lihat, ini rumahku!" Atau tak sedikit pula yang mampu mendisain bangunan istana dengan konsep warna yang betul-betul cemerlang. Dengan kata lain, kemampuannya memilih dan menempatkan bentuk-bentuk seperti lingkaran, segitiga, persegi panjang, bujur sangkar dan sebagainya sungguh mengagumkan. "Saya sampai nyaris setengah percaya kalau itu karya seorang murid TK, lho," komentar Hapidin penuh kekaguman.
Itulah mengapa, tekan Hapidin lagi, seyogyanya sejak usia bayi, anak sudah diperkenalkan pada bentukdan warna. "Orang tua tak perlu bingung untuk menentukan bentuk apa saja yang perlu diperkenalkan dan mana yang harus diprioritaskan. Tak cuma terbatas pada bentuk yang beraturan seperti segi tiga, segi empat, dan seterusnya, tapi semua bentuk."
Di dalam susunan IQ, tambah Hapidin, ada satu subpotensi intelektual yang namanya spacial ability atau pemahaman ruang. Nah, mereka yang kemampuan spasialnya rendah, saat melihat sebuah ruangan mungkin akan mengatakan "Ah, biasa-biasa saja, kok, nggak ada yang istimewa." Tak demikian halnya dengan mereka yang kemampuan spasialnya bagus; hanya dengan melihat sekilas ia langsung bisa tahu, "Ini miring, lho. Segi panjangnya nggak imbang antara yang kiri dan kanan." Kalau pengenalan semacam ini tak distimulasi, tak dipekakan sejak dini, tak akan sedemikian terasah saat anak besar.
Tapi belum terlambat, lho, Bu-Pak, bila si kecil baru diperkenalkan di usia batita. Bukankah yang namanya pendidikan tak kenal kata terlambat? Nah, perkenalkan anak pada berbagai bentuk lewat mainan dan benda-benda yang ada di sekitarnya. Biarkan ia sibuk dengan panci, ember plastik, terompet, bahkan sapu dan kursi. "Lewat pengalaman bermainnya ini, minimal ia bisa menangkap makna aneka warna dan bentuk," kata Hapidin. Semakin orang tua mendorong atau memancing anak secara kreatif memanfaatkan apa yang ada di lingkungan sekitarnya, semakin positif pula dampaknya bagi anak. "Keterampilan kognitifnya akan semakin terasah."
Namun Hapidin mengingatkan agar orang tua tak terjebak dalam pengenalan yang terkotak-kotak untuk masing-masing kelompok anak usia 1, 2 atau 3 tahun. Soalnya, mengenalkan konsep bentuk dan warna harus dilakukan secara terpadu dan bertahap karena kemampuan ini akan mengalami peningkatan sesuai pertambahan usia anak. Misal, bayi "hanya" bisa mengenal warna-warna dasar, sementara anak yang lebih besar, kemampuannya lebih terasah hingga bisa mengenali warna-warna yang lebih kompleks.
Seiring dengan pengenalan tersebut, berilah kesempatan pada anak untuk bersosialisasiagar ia tak "ketinggalan kereta". Hapidin lantas mengambil contoh seorang anak yang orang tuanya berasal dari pendidikan dan ekonomi sangat bawah, namun survive dan memiliki interaksi sosial sangat tinggi. "Meski di rumahnya nggak punya mainan, ia bisa pinjam mainan di tempat teman-temannya, termasuk mengoperasikan mainan secanggih play station. Akhirnya, ia punya bekal tentang konsep tata warna, tata letak, dan bentuk bangunan hingga bisa merangkai dan menuangkannya dalam lukisan yang luar biasa bagus."
Artinya, jelas Hapidin, orang tua boleh saja punya keterbatasan, namun dengan tak mengkungkung anak dalam keterbatasannya tadi, anak akan tetap mengalami proses tumbuh kembang yang maksimal. "Dengan memberikan kebebasan yang terkontrol, anak akan memperoleh pengalaman-pengalaman baru yang menakjubkan melalui interaksi sosialnya." Jadi, tandasnya, pengaruh lingkungan bisa mengoptimalkan potensi yang ada pada anak.
MENGEMBANGKAN BERPIKIR ALTERNATIF
Penting diketahui, pengenalan warna erat kaitannya dengan pengasahankemampuan imajinatif dan artistik anak. Dalam bahasa lain, lebih mengasah bakat dan kemampuan di bidang seni. Soalnya, salah satu faktor pembangun imajinasi dan kreativitas adalah aspek warna. Bukankah orang seni biasanya paling kreatif? "Nah, anak yang memperoleh stimulasi mengenai tata warna, tentu akan dengan cepat memadukan warna yang serasi antara benda yang satu dengan benda lainnya hingga betul-betul enak dilihat. Sementara yang tak distimulasi, boleh jadi dalam memilih warna baju pun akan 'tabrakan' dan terkesan norak," tutur Hapidin.
Selain mengasah bakat dan kemampuan di bidang seni, pengenalan warna juga berkaitan erat dengan pola berpikir alternatif.Misal, anak memilih hijau untuk warna genting. Mungkin ia pernah melihat genteng hijau. Bukankah sekarang banyak perumahan yang gentengnya hijau? Tapi boleh jadi karena ia memang punya pemikiran lain. Misal, seandainya suatu saat terjadi perang, maka genteng yang hijau akan dilihat pesawat pengintai bukan sebagai perumahan hingga terlepas dari sasaran pengeboman. "Nah, kita harus memuji anak atas kemampuannya 'berpikir panjang'. Kita saja enggak berpikir sejauh itu, mereka malah bisa, lho."
Jadi, Bu-Pak, kalau si kecil kedapatan menggambar ayam dan diberi warna hijau, misal, jangan dilarang atau disalahkan, ya. Yang perlu dilakukan adalah menggali alasannya memberi warna tersebut. "Karena waktu ke Kebun Binatang, aku melihat ayam warnanya hijau," mungkin begitu jawabannya. Padahal yang dimaksud adalah ayam merak. "Selama anak punya reasoning atau alasan,kita tak berhak melarang anakmenggunakan warna tertentu yang jadi pilihannya. Biarkan ia memilih warna sesuai pengalamannya. Ingat, pengetahuan dan pengalamannya masih terbatas. Jadi, biarkan ia belajar dari pengalamannya." Menurut Hapidin, kita hanya perlu mengarahkan karena anak yang asal mewarnai tentu berbeda dengan anak yang punya reasoning.
Pola berpikir alternatif juga akan berkembang melalui "permainan" mencampur beberapa warna untuk menghasilkan suatu warna baru. Bukankah dalam menentukan suatu warna yang hendak digunakan tak harus 100 persen merah, misal, atau kuning, tapi juga bisa warna hasil campuran merah dan kuning, yaitu jingga? Untungnya, kini banyak kelompok bermain yang sudah memperkenalkan program eksperimen mencampur warna. "Dalam program ini, anak bebas berekspresi mencampur warna apa saja. Saat mencampur, ia melihat sendiri apa hasil percampuran warna-warna tertentu; merah dengan kuning, merah dengan biru, biru dengan kuning, dan seterusnya."
Selain mengembangkan pola berpikir kreatif,"permainan" ini juga akan menggugah rasa ingin tahu anak untuk mendalami ilmu pengetahuan. "Ada proses pengembangan visual dan science, meski baru taraf paling sederhana, karena mau tak mau, anak tertantang untuk tahu lebih banyak tentang kejadian-kejadian alam di sekitarnya." Misal, mencampur air dan gula hingga terhidang segelas air manis atau air dan sirup menjadi larutan berwarna tertentu yang menarik dan menggugah selera.
Ternyata manfaatnya luar biasa, ya, Bu-Pak, dari pengenalan warna dan bentuk. Nah, tunggu apa lagi? Buruan, deh, kenalkan si kecil pada aneka warna dan bentuk. (Ditulis oleh: Julie/nakita, Tabloid Nova).
Setelah kita baca artikel di atas, tentu kita telah semakin mengenal dan mengerti manfaat mengenal warna bagi anak-anak usia dini. Sebagai bentuk aktivitas edukatifnya, Kak Zepe akan memperkenalkan lagu anak berjdul "Warna Benda" di bawah ini. semoga bisa menjadi media yang menyenangkan dalam mengajar buah hati anda. Salam cinta lagu2anak
Kumakan apel yang berwarna merah
Kududuk di atas batu hitam
Di bawah pohon yang bedaun hijau
Dahan rantingnya berwarna cok’lat
Langit berwarna biru
Awan berwarna putih
Awan jadi kelabu
Hujan se’gra datang
Kubergegas pulang
Jangan lupa dengerin lagu anak berjudul WARNA PELANGI juga ya... :)
Info Tambahan: 1. Dapatkan lagu Anak KArya Kak Zepe lainnya dengan Download Gratis di SINI 2. Butuh Lirik dan Lagu Anak Islam? Silakan Klik di SINI 3. Macam-Macam Tepuk Anak Yang Mencerdaskan? Silakan klik di SINI Silakan Mempublikasikan Karya-karya Saya dengan mencantumkan: Karya Kak Zepe, lagu2anak.blogspot.com
Lagu Anak "WARNA PELANGI" Mejikuhibiniu Karya Kak Zepe
Membutuhkan sebuah kreatifitas agar kita bisa mengenalkan macam-macara warna kepada anak dengan cara yang menyenangkan. Bisa dengan permainan, mewarnai gambar, dan aktivitas menarik lainnya. Sebagai pencipta lagu, Kak Zepe akan memperkenalkan sebuah lagu yang bisa digunakan sebagai media mengajar macam-macam warna. Tentu saja dengan media lagu. Lagunya berjudul "Warna Pelangi". Penasaran kan dengan lagunya?? Sebelum bernyanyi, mari kita baca tips berikut:
Saat usianya 0-1 tahun kemampuannya belum sebaik pada usia dua tahun yang lebih mengandalkan pendengaran. Sedangkan anak pada usia dua tahun fungsi-fungsi visualnya sedang berkembang.
Mulai usia dua tahun, kemampuan visualnya lebih baik, kemampuan mengakomodasikan mata sudah lebih baik sehingga bisa lebih fokus dan dapat melihat sesuatu dengan lebih jelas.
Maka pada usia dua tahun itulah, pengenalan dan pengetahuan warna perlu dilakukan. Sehingga, ketika usianya tiga tahun, anak tidak salah lagi jika menunjuk atau menyebut warna tersebut.
Walau memang, sudah banyak orangtua yang mengenalkan aneka warna sebelum usia si kecil dua tahun. Ini boleh dilakukan, namun pada usia sebelum menginjak dua tahun, daya pandang, ketajaman mata dan pengakomodasian mata masih belum terlalu optimal.
Pertumbuhan otak pesat
Mengacu pada tumbuh kembang anak,proses tumbuh kembang otak usia 0-10 tahun sangat pesat. Pada usia tersebut terjadi koneksi yang sangat optimal antarsaraf otak yang jumlahnya bisa mencapai 1.000 triliun.
Amazing ya Moms? Nah, momen berharga ini tentu sangat luar biasa dan tidak akan terulang lagi. Inilah sebabnya mengenalkan pelbagai warna kepada si kecil bisa menjadi sangat berguna sekaligus menyenangkan.
Mudah dan menyenangkan
Menggunakan fasilitas yang ada di sekeliling rumah Moms merupakan cara mudah dan menyenangkan memperkenalkan warna kepada si kecil. Misal:
• Biarkan si dua tahun memegang, mengalami, dan memanipulasi benda aneka warna. Misalnya saja, Moms bisa mengenalkan warna merah sambil membiarkannya memegang buah apel, atau benda berwarna merah lainnya.
• Moms juga bisa mengenalkan warna melalui pakaian yang ia kenakan. Dengan cara ini, batita tidak hanya bisa mengingat warna, tetapi juga bisa menghayati warna-warna dengan baik.
• Ajarkan si kecil bernyanyi lagu-lagu anak seperti Balonku Ada Lima, Pelangi, Lihat Kebunku, atau Kucingku Belang Tiga. Moms bisa sambil menunjukkan gambar-gambar yang sesuai dengan tema lagu, untuk lebih memudahkan anak mengingat.
Tips sukses mengenalkan warna
• Harus kontinu secara terus-menerus dilakukan setiap hari berkisar 15 hingga 20 menit. Hal ini untuk menyeimbangkan pengetahuan yang ia miliki dengan pertumbuhan saraf otaknya yang sedang maksimal.
• Untuk usia dua tahun kenalkan tiga warna dasar (merah, biru dan kuning) terlebih dulu. Karena, ketiga warna tersebut merupakan warna dasar dari warna yang lain. Setelah ia bisa mengenali tiga warna dasar tersebut, Moms boleh mengenalkan warna-warna yang lainnya.
• Untuk memperkenalkan aneka warna tersebut Moms bisa menggunakan apa pun yang ada di sekeliling rumah dan lingkungan. Misalnya mainannya yang berwarna biru, buah apel yang berwarna merah atau warna kuning pada jeruk/lemon. Jangan lupa tunjuk benda yang dimaksud atau saat ia memakan buah tersebut.
• Lafalkan warna dengan intonasi yang jelas sehingga anak akan tahu perbedaannya dengan lebih jelas. Agar lebih fun lakukan sambil bermain. Jika perlu perlihatkan ekspresi muka Moms ketika menyebutkan warna tersebut karena sebelumnya, dia belajar dari cara mendengar.
• Indra sentuhan juga bisa sekaligus Moms ajarkan. Dengan cara meraba kulit jeruk, lemon atau apel si kecil juga akan tahu visual dan teksturnya.
• Jika ia sulit untuk menghafal dan mengetahui warna tersebut, janganlah berputus asa. Moms dapat melakukan penambahan intensitasbelajar sambil bermain seperti di atas dengan waktu yang sedikit lebih banyak.
Misal, kalau dulu satu kali sehari maka sekarang dua atau tiga kali sehari. Namun tetap harus fun dengan durasi hanya 15 sampai dengan 20 menit. Namun tetapjangan memaksakannya ya, Moms!
• Moms juga harus dapat melihat kemampuan si kecil lebih peka kepada indra pendengarannya atau indra penglihatannya. Karena jika Moms mengetahuinya maka akan lebih mudah mengajarkan si kecil untuk mengetahui aneka warna.
• Moms boleh-boleh saja mengenalkan warna dengan dua bahasa (misalnya bahasa Inggris dan Indonesia). Namun yang perlu diperhatikan, bahasa harus dapat dimengerti oleh anak, sehingga si kecil tahu persis bahwa dua bahasa tersebut berarti sama.
• Yang tak kalah penting, saat mengenalkan warna kepada si kecil, Moms harus sabar dan jangan putus asa.
Si kecil hafal warna, tanda cerdas?
Bila dikaitkan dengan sistem kerja otak, ternyata ada sistem kerja otak anak yang dominannya visual -ditandai dengan fungsi lobus oksivitalis yang sangat kuat- di mana ia peka terhadap warna, gambar dan semua yang sifatnya berhubungan dengan tatapan matanya.
Namun ada juga anak yang lebih dominan pada fungsi audionya (suara atau pendengaran) - ditandai dengan lobus temporaly. Gaya belajar yang ditentukan dari fungsi otak tersebut membuat setiap anak mempunyai kepekaan yang berbeda terhadap proses belajar.
Dengan demikian diharapkan Moms lebih mengetahui, bila si kecil lebih peka terhadap pendengaran maka pengenalan warna (secara visual) akan membutuhkan warna sedikit lebih banyak. Tapi jangan langsung mencap bahwa ia lebih lambat mengetahui warna berarti ia kurang cerdas ya Moms. (Sumber: Mom&Kiddie)
Nah... Sekaran mari kita dengerin lagu anak karya Kak Zepe ini. Semoga dengan lagu anak berjudul "Warna Pelangi" anak-anak akan semakin mudah belajar macam-macam warna. Jangan lupa media pendukung lainnya, seperti gambar, pensil warna, kartu, dan lainnya.
Me ji ku hi bi mi u
Warna-warna pelangi
Me ji ku hi bi mi u
Sungguh indah sekali
ME untuk warna merah
JI untuk warna jingga
KU untuk warna kuning
HI untuk warna hijau
BI untuk warna biru
NI untuk warna nila
U untuk warna ungu
ME JI KU HI BI NI U
Info Tambahan: 1. Dapatkan lagu Anak KArya Kak Zepe lainnya dengan Download Gratis di SINI 2. Butuh Lirik dan Lagu Anak Islam? Silakan Klik di SINI 3. Macam-Macam Tepuk Anak Yang Mencerdaskan? Silakan klik di SINI
Silakan Mempublikasikan Karya-karya Saya dengan mencantumkan: Karya Kak Zepe, lagu2anak.blogspot.com