• PEMASANGAN INDIHOME TRIPLE PALY (3P)

    Telp: 0851 0246 9682 ATAU HP: 0822 7200 7787

  • PEMASANGAN INDIHOME MEDAN (3P)

    TELP:0851 0246 9682 ATAU HP: 0822 7200 7787

  • FIBER TO THE HOME (FTTH)

    0851 0246 9682 ATAU HP: 0822 7200 7787

  • INTERNET ON FIBER (INDIHOME MEDAN)

    TELP:0851 0246 9682 ATAU HP: 0822 7200 7787

Tampilkan postingan dengan label Tips Bagi Orang Tua Untuk Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Bagi Orang Tua Untuk Anak. Tampilkan semua postingan

Kumpulan Info dan Tips PArenting (Kumpulan Tips Parenting / Cara Mendidik Anak Secara Kreatif))




129 Parenting  Tips 
(129 Cara Mendidik Anak Secara Kreatif)










































































































































Silakan Mempublikasikan Karya-karya Saya dengan mencantumkan:Karya Kak Zepe, lagu2anak.blogspot.com

Memotivasi Anak Belajar Tanpa Paksaan (Tips Menyemangati Anak Agar Mau Belajar Dengan Senang Hati) By Kak Zepe




Beberapa anak bisa dengan mudah diminta untuk belajar.  Namun tidak semua anak suka belajar. Mereka lebih suka bermain, daripada belajar. Dunia anak memang dunia bermain. Namun ada kalanya mereka benar-benar harus belajar dan membutuhkan konsentrasi. Bila anak dipaksa untuk belajar, tentu efeknya lebih jauhnya akan kurang  baik. Misalnya, anak menjadi  pemberontak, menganggap belajar adalah sesuatu  beban, dll. Nah… Bagaimana memotivasi  anak agar mereka mau belajar tanpa dipaksa?



1.Orang tua pembelajar, akan menciptakan anak gemar belajar
Sebagai orang tua, kita harus bisa memberikan teladan bagi buah hati kita. Bila anak sering melihat kita belajar, niscaya anak akan menirunya.  Karena kebiasaaan orang tua, akan cenderung  ditirukan oleh anak. Namun bila kita setiap hari hanya rajin nontin TV dan bisanya marah-marah kalau anak tidak belajar, tentu akan sangat sulit membuat anak belajar dengan setulus hati. Dalam hal ini, kita juga harus berprinsip bahwa hidup adalah untuk belajar. Bukan hanya belajar untuk hidup. Karena disaat belajar itu sudah membuahkan hasil yang cukup untuk menghidupi, biasanya kita akan malas belajar. Jadi sebagai orang tua, marilah kita rajin belajar. Karena ada banyak sekali hal yang baru dan menarik untuk kita pelajari.

2.Metode Bermain dan Belajar
Dunia anak adalah dunia belajar dan bermain. Pada jaman ini, ada banyak sekali mainan yang edukatif. Mainan-mainan tersebut sangat menarik dan memiliki nilai pendidikan. Dengan mainan edukatif, anak-anak akan diajak belajar tanpa dipaksa, bahkan bisa menghibur dan menyenangkan hati mereka. Misalnya, permainan yang berupa kartu  bergambar yang bertuliskan  kata bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Atau  permianan berhitung dengan media  miniature buah-buahan.  Masih banyak lagi contoh yang lain.  Bahkan sekarang banyak sekali  bermunculan permainan – permainan edukatif yang  bisa dimainkan secara online atau dengan media internet. Software-software game edukatif pun sudah banyak beredar di toko-toko dan banyak digunakan sebagai media pengajaran di sekolah.

3.Menjadi Teman Belajar Yang  Baik
Meskipun kita perlu  mendampingi anak saat  belajar, namun saya tidak menyarankan bagi anda untuk mendampingi anak belajar  dengan terlalu  intens. Mendampingi anak di sini juga bukan membantu anak agar mendapat  nilai yang bagus. Motivasi  kita pada saat  mendampingi anak dalam belajar adalah mengenal dan memperdalam pemahaman kita pada kedewasaan anak dalam belajar. Bila kita merasa anak sudah cukup dewasa untuk bisa belajar secara mandiri, akan lebih baik  kita benar-benar percaya bahwa buah hati kita bisa belajar dengan baik.  Dengan mendampingi anak saat belajar, kita bisa memahami beberapa rintangan anak saat belajar. Misalnya,  bila anak susah konsentrasi dalam belajar, kita bisa membantunya untuk menemukan jalan keluar supaya anak bisa lebih konsentrasi dalam belajar. Atau bila ada aduan-aduan dari guru, kita bisa cepat tanggap dan menemukan solusi yang baik. Yang penting pada saat  kita melepaskan anak untuk bisa belajar secara mandiri, kita tetap  mementor perkembangan mereka.

4.Memberi Semangat Dengan Pujian
Tidak jarang buah hati kita akan belajar dengan sendirinya, misalnya saat membaca buku ensiklopedi. Dalam hal-hal kecil inilah kita juga harus memberikan motivasi dengan cara memujinya.

5.Memahami dan Mendukung Anak Dalam Mengembangkan Anak
Semua anak tentu diberikan kelebihan masing – masing. Jangan pernah kita berpikir kalau buah hati kita tidak punya bakat apa pun. Kita harus percaya bahwa setiap anak memiliki tujuan dan makna hidup masing-masing, dan diberikan talenta dari Tuhan. Bila kita merasa belum menemukan bakat  anak, kita  harus terus berusaha mencari bakat anak terutama yang paling menonjol. Beberapa orang tua kurang  memahami kalau anaknya berbakat  dalam menari atau anak memiliki suara yang indah, karena kesibukan-kesibukan mereka dan masih menganggap tolak ukur keberhasilan seorang anak hanya dilihat dari nilai raport.  Bila nilai raport buah hati kita tidak terlalu memuaskan , kita jangan terlalu mudah menghakimi buah hati kita dengan sebutan “tidak bisa apa-apa”, sebaliknya, kita harus berbuat  sesuatu agar bakat-bakat anak yang lain pun bisa tersalurkan dan dikembangakan, sehingga anak tetap termotivasi untuk belajar sesuatu yang baru.

6.Mengapresiasi keberhasilan anak
Agar anak semakin merasa bahwa belajar itu sangat penting, kita harus mengapresiasi buah hati kita saat  mereka mendapatkan keberhasilan.  Sebagai guru, saya sering memberikan stiker mini saat ada anak didik saya mendapatkan nilai 100. Dan mereka menyukainya, dan benar-benar memotivasi  mereka untuk mau belajar giat agar mendapatkan nilai 100 dan tentu saja mendapatkan stiker. Bagi seorang anak, penghargaan yang diberikan dari seseorang yang mereka hormati, akan lebih berarti daripada penghargaan yang bisa mereka beli di toko-toko. Buktinya, ada salah seorang  anak didik saya yang tiba-tiba memberikan saya stiker. Lalu dia mengatakan,”Kalau nanti saya dapat nilai 100, stiker ini nanti dikasih ke saya ya Pak… .”

7. Suasana ruangan  yang menyenangkan dan memadai untuk belajar.
Sediakan ruang belajar khusus buat anak. Bisa di kamar tidur, atau di ruangan khusus. Yang penting jauh dari kegaduhan dan bersih. Bagaimana anak bisa konsentrasi bila mereka belajar namun mendengar suara TV? Atau mereka belajar ditemeni nyamuk, semut, dan tikus.   Bila perlu kita sediakan ruang perpustakaan pribadi yang juga bisa dipakai juga sebagai tempat belajar. Mengapa? Agar di dalam ruangan tersebut anak-anak benar-benar bisa menimba ilmu sebanyak-banyaknya.

8.Memanfaatkan Lagu dan Dongeng Anak
Anak-anak adalah pribadi yang harus belajar secara berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan. Nah, dengan lagu anak yang mereka dengar atau nyanyikan setiap hari, maka manfaat yang terdapat di dalam lagu tersebut, bisa diserap oleh anak dan bisa berubah menjadi kebiasaan.  Jadi pakailah lagu – lagu anak yang mendidik agar anak-anak medapatkan manfaat  pendidikan  yang terdapat di dalam lagu anak yang mereka dengan atau nyanyikan. Dalam hal ini, media dongeng juga bisa menjadi pilihan.

9.Memahami Kemampuan Belajar Anak
Ada anak yang lebih suka belajar dengan cara melihat, ada pula anak yang lebih suka belajar dengan mendengar. Ada pula yang lebih suka belajar dengan cara melakukan. Di sekolah, biasanya anak akan diajak untuk belajar dengan ketiga metode tersebut. Namun sebagai orang tua kita harus bisa memberikan pendidikan mulai dari  cara yang paling mereka suka.  Jadi yang perlu kita lakukan pertama-tama adalah memahami  kemampuan mereka. MIsalnya, Bila anak lebih suka belajar  dengan mendengar, kita  bisa memberikan dongeng  pada mereka dongeng. Setelah itu kita ajak mereka menggambar agar kemampuan visual dan “doing” mereka  lebih kuat.

10. Membiasakan Anak Memiliki Jam Belajar
Hal ini mungkin yang paling ekstrim, namun biasa dilakukan oleh “keluarga ilmuwan”. Biasanya pada pukul tujuh sampai delapan malam (hari senin sampai jumat), tidak ada yang boleh main game, nonton TV, maen HP, dll). Pada jam tersebut semua penghuninya harus belajar, minimal membaca buku, dan untuk anak-anak yang masih balita bermaian permainan yang edukatif, atau dibacakan buku / dongeng oleh orang tuanya.  Bila hal ini bisa menjadi kebiasaan, maka untuk kedepannya anak-anak tidak akan sulit untuk diminta belajar. Namun kembali lagi, kebiasaan ini hanya bisa dilakukan oleh orang tua yang bisa memberikan teladan pembelajar yang baik.




Silakan Mempublikasikan Karya-karya Saya dengan mencantumkan: Karya Kak Zepe, lagu2anak.blogspot.com

Pentingnya Mengenal 4 Karakter Dasar Manusia (Menurut Florence Litteur's Personality Plus) Dalam Mendidik Anak


Florence Litteur, penulis buku terlaris “Personality Plus” menguraikan, ada empat pola watak dasar manusia. Sifat-sifat  tersebut  adalah sanguinis, plegmatis, melankolis, dan koleris.  Mengapa kita perlu  memahami 4 karakter dasar manusia tersebut dalam mendidik anak? Mari kita simak... :)


dreamstime.com




    Yang pertama, kata Florence adalah golongan Sanguinis, “Yang Populer”. Mereka ini cenderung ingin populer, ingin disenangi oleh orang lain. Hidupnya penuh dengan bunga warna-warni. Mereka senangsekali bicara tanpa bisa dihentikan. Gejolak emosinya bergelombang dan transparan. Pada suatu
    saat ia berteriak kegirangan, dan beberapa saat kemudian ia bisa jadi menangis tersedu-sedu.
    Namun orang-orang sanguinis ini sedikit agak pelupa, sulit berkonsentrasi, cenderung berpikir `pendek’, dan hidupnya serba tak beratur. Jika suatu kali anda lihat meja kerja pegawai anda cenderung berantakan, agaknya bisa jadi ia sanguinis. Kemungkinan besar ia pun kurang mampu berdisiplin dengan waktu, sering lupa pada janji apalagi bikin planning/rencana. Namun kalau disuruh melakukan sesuatu, ia akan dengan cepat mengiyakannya dan terlihat sepertinya betul-betul hal itu akan ia lakukan. Dengan semangat sekali ia ingin buktikan bahwa ia bisa dan akan segera melakukannya. Tapi percayalah, beberapa hari kemudian ia tak lakukan apapun juga.

    Lain lagi dengan tipe kedua, golongan melankoli, “Yang Sempurna”. Agak berseberangan dengan sang sanguinis. Cenderung serba teratur, rapi, terjadwal, tersusun sesuai pola. Umumnya mereka ini suka dengan fakta-fakta, data-data, angka-angka dan sering sekali memikirkan segalanya secara mendalam. Dalam sebuah pertemuan, orang sanguinis selalu saja mendominasi pembicaraan, namun orang melankoli cenderung menganalisa, memikirkan, mempertimbangkan, lalu kalau bicara pastilah apa yang ia katakan betul-betul hasil yang ia pikirkan secara mendalam sekali.

    Orang melankoli selalu ingin serba sempurna. Segala sesuatu ingin teratur. Karena itu jangan heran jika balita anda yang `melankoli’ tak `kan bisa tidur hanya gara-gara selimut yang membentangi tubuhnya belum tertata rapi. Dan jangan pula coba-coba mengubah isi lemari yang telah disusun istri `melankoli’ anda, sebab betul-betul ia tata-apik sekali, sehingga warnanya, jenisnya, klasifikasi pemakaiannya sudah ia perhitungkan dengan rapi. Kalau perlu ia tuliskan satu per satu tata letak setiap jenis pakaian tersebut. Ia akan dongkol sekali kalau susunan itu tiba-tiba jadi lain.

    Ketiga, manusia Koleris, “Yang Kuat”. Mereka ini suka sekali mengatur orang, suka tunjuk-tunjuk atau perintah-perintah orang. Ia tak ingin ada penonton dalam aktivitasnya. Bahkan tamu pun bisa sajaia `suruh’ melalukan sesuatu untuknya. Akibat sifatnya yang `bossy’ itu membuat banyak orang koleris tak punya banyak teman. Orang-orangberusaha menghindar, menjauh agar tak jadi `korban’ karakternya yang suka `ngatur’ dan tak mau kalah itu.

    Orang koleris senang dengan tantangan, suka petualangan. Mereka punya rasa, “hanya saya yang bisa menyelesaikan segalanya; tanpa saya berantakan semua”. Karena itu mereka sangat “goal oriented”,tegas, kuat, cepat dan tangkas mengerjakan sesuatu. Baginya tak ada istilah tidak mungkin. Seorang wanita koleris, mau dan berani naik tebing, memanjat pohon, bertarung ataupun memimpin peperangan. Kalau ia sudah kobarkan semangat “ya pasti jadi…” maka hampir dapat dipastikan apa yang akan ia lakukan akan tercapai seperti yang ia katakan. Sebab ia tak mudah menyerah, tak mudah pula mengalah.

    Hal ini berbeda sekali dengan jenis keempat, sang Phlegmatis “Cinta Damai”. Kelompok ini tak suka terjadi konflik, karena itu disuruh apa saja ia mau lakukan, sekalipun ia sendiri nggak suka. Baginya kedamaian adalah segala-galanya. Jika timbul masalah atau pertengkaran, ia akan berusaha mencari solusi yang damai tanpa timbul pertengkaran. Ia mau merugi sedikit atau rela sakit, asalkan masalahnya nggak terus berkepanjangan.

    Kaum phlegmatis kurang bersemangat, kurang teratur dan serba dingin. Cenderung diam, kalem, dan kalau memecahkan masalah umumnya sangat menyenangkan. Dengan sabar ia mau jadi pendengar yang baik, tapi kalau disuruh untuk mengambil keputusan ia akan terus menunda-nunda. Kalau anda lihat tiba-tiba ada sekelompok orang berkerumun mengelilingi satu orang yang asyik bicara terus, maka pastilah parapendengar yang berkerumun itu orang-orang phlegmatis. Sedang yang bicara tentu saja sang Sanguinis.

    Kadang sedikit serba salah berurusan dengan para phlegmatis ini. Ibarat keledai, “kalau didorong ngambek, tapi kalau dibiarin nggak jalan”. Jadi kalau anda punya staf atau pegawai phlegmatis, andaharus rajin memotivasinya sampai ia termotivasi sendiri oleh dirinya (dikutip dari ahli.wordpress.com).

    Seorang  anak masih mudah ditebak,  tanpa perlu menggunakan tes, untuk bisa mengetahui kepribadian dasar mereka. Sebagai  orangtua, kita  perlu  mengetahui kepribadian dasar buah hati kita. Hal ini akan sangat  berguna. Manfaat  tersebut antara lain:


    1. Tahu  bagaimana memperlakukan mereka.
    Misalnya  kita  memiliki anak yang sanguinis, dimana ciri-ciri dasar mereka adalah  suka berbicara dan sangat ekspresif. Beberapa orang tua merasa khawatir, saat  mengetahui buah  hatinya sangat  cerewet. Jangan sampai  kita membanding-bandingkan dengan orang  lain, biasanya saudara kandungnya, yang  cenderung  pendiam, dengan mengatakan,”Kamu bisa nggak  seperti kakakmu, pendiam, dan nggak suka bikin keributan.” Atau   dengan banyak  melarang anak yang sanguinis untuk  bicara. Jangan sampai larangan-larangan kita melukai buah hati kita, dan harus menjadi “orang lain”. Hal ini bisa menghambat pertumbuhan kedewasaan sang anak. Akan lebih baik  bila kita mengarahkan “kekurangan”  sang anak tersebut menjadi  sebuah kelebihan yang bermanfaat bagi  dirinya  dan orang  lain, serta demi kebaikan masa depan sang anak. Misalnya, dengan mengajarkan mereka kata-kata  yang  baik, mengajari  mereka menasihati, menghindarkan mereka dari kata-kata yang kasar (yang bisa menyakiti orang lain),  mengajari mereka untuk  berbicara dengan lembut (tidak dengan membentak), sehingga nantinya saat  mereka dewasa, mereka menjadi anak yang baik dalam bertutur kata dan bertindak.

    2. Mengenal  potensi dan bakat  anak
    Untuk poin yang kedua  ini, saya  akan mengambil  karakter melankolis. Kebanyakan anak melankolis memiliki bakat-bakat di bidang  seni, misalnya bermain piano, menulis, menggambar, dan masih banyak lagi. Hobi mereka cenderung  sesuatu yang membutuhkan konsentrasi dan membutuhkan waktu untuk sendiri untuk mendapatkan hasil yang baik. Bila kita memiliki buah  hati yang bersifat melankolis, akan lebih  baik bila kita mengarahkan bakat  mereka. Bila  buah hati kita suka  menulis, akan lebih baik bila kita mendukung mereka dan membantu  mereka agar bisa mengembangkan bakat  mereka. Kita bisa  membelikan mereka buku-buku  cerita   yang mendidik, memberikan ruang  belajar khusus, tidak  melarang mereka melakukan hobi mereka (yang baik), dan memberikan dukungan terhadap hal-hal baik yang mereka suka. Anak melankolis cenderung suka menyendiri. Tentu  saja bila kita terlalu banyakmereka menyendiri akan memberikan dampak  yang tidak baik bagi masa depan mereka, misalnya mereka bisa  tumbuh  menjadi  anak  yang anti-sosial.  Semua bakat mereka akan menjadi sia-sia bila mereka tidak memiliki  teman (yang bisa diajak  saling belajar), tidak berani tampil, males bersosialisasi, dan berbagai sifat-sifat  anti-sosial  lainnya. Maka kita harus mengarahkan mereka  agar  mereka mau bersosialisasi,  misalnya dengan mengajak mereka jalan-jalan keliling kampong (agar bertemu dengan tetangga dan anak-anak lain), meminta mereka bergabung  dalam organisasi sosial dan agama, mengikutkan mereka dengan bimbingan belajar yang bersifat non-privat, mendorong mereka untuk  berani  tampil (ikut lomba-lomba dan pentas seni), dan masih  banyak  lagi.  Siapa tahu meski buah  hati anda termasuk orang-orang melankolis yang  bisa populer  (karna karya-karya  hebat mereka) seperti  orang-orang  sanguinis (yang memang mudah terkenal karena cerewet dan suka bersosialisasi).

    3. Membentuk mereka agar memiliki kedewasaan yang utuh
    Anak  yang “bossy” (berlagak seperti bos dan suka mengatur),  adalah sifat   yang dimiliki oleh anak koleris. Bukan sifat yang buruk  memang, semua tergantung bagaimana kita mengarahkan mereka. Akan menjadi buruk bila mereka menjadi susah diatur, dan maunya  ngatur melulu tanpa pertimbangan  yang matang dan tanpa memikirkan perasaan orang lain. Kedewasaan yang utuh yang saya maksud adalah kedewasaan dimana anak bisa menyesuaikan dengan segala lingkungan sosial dan segala pribadi manusia.  Karena tidak mungkin pribadi anak bisa bertumbuh  dengan baik bila dia memiliki 100 persen dari  sifat dasar mereka. Semua orang yang ingin bisa diterima oleh setiap orang  harus  belajar untuk memiliki dan minimal memahami karakter yang  lain. Itulah  pentingnya bersosialisasi dan bimbingan dari orang  tua. Jadi meskipun buah hati kita berkarakter koleris, tetap belajar memahami perasaan orang lain seperti anak melankolis, tetap bisa belajar tersenyum meski hati sedang  gundah seperti anak sanguinis, meski suka mengatur dan cenderung  ingin “berkuasa, namun tetap “cinta damai” seperti anak  plegmatis.
    Untuk bisa menjadi  pribadi  yang  dewasa seperti itu, selain mengetahui kekurangan mereka, mereka juga  harus belajar menghilangkan atau minimal mengontrol “kekurangan mereka.

    4. Mengendalikan kekurangan 
    Menghilangkan kekurangan yang ada di dalam diri  kita hampir tidak  mungkin, karena setiap orang  pasti memiliki  kekurangan. Yang paling mungkin dilakukan adalah mengendalikan kekurangan. Misalnya sifat pemarah, banyak  bicara,  dan terlalu pendiam. Kita bisa mengendalikannya  dengan marah yang  masih memakai akal sehat, banyak  bicara yang   kata-katanya bisa  memberikan manfaat  bagi  diri sendiri serta orang  lain, dan pendiam yang  bisa memberikan suasana damai kala  terjadi pertengkaran.  Bagaimana pun caranya, kita harus mengajak buah  hati kita pentingnya bersosialisasi dan membimbing mereka. Cara terbaik untuk bisa  mengendalikan kekurangan seseorang  adalah dengan belajar menerima kekurangan setiap orang. Cara terbaik bisa menerima kekurangan setiap orang adalah  dengan belajar memahami setiap orang. Dan cara terbaik untuk bisa memahami setiap orang adalah dengan cara bersosialisasi. Tentu saja buah  hati kita masih sangat  membutuhkan bantuan dan bimbingan kita untuk bisa memiliki kedewasaan yang utuh. (Kak Zepe, Penulis Lagu Anak)


    Semoga  artikel ini bermanfaat  buat  buah  hati anda agar kita tidak  “salah  didik”. Karena hal  kesalahan dalam mendidik anak bisa membunuh  karakter anak dan potensi mereka. 




    Silakan Mempublikasikan Karya-karya Saya dengan mencantumkan: Karya Kak Zepe, lagu2anak.blogspot.com

    Tips Mencegah Penculikan Di Sekolah (TK dan PAUD) - (Cara meningkatkan keamanan dan mecegah terjadinya kasus pnculikan anak usia dini) - By Kak Zepe



    mayorofconcord.com
    Tips Menghindari Penculikan Di Sekolah

    Akhir-akhir ini tindak kriminal semakin merajalela. Para pelaku tindak kejahatan tidak peduli siapa lagi korbannya. Benar kata Bang Napi, “Kejahatan tidak hanya terjadi karena niat pelakunya, melainkan juga karena ada KESEMPATAN.” Dan  masih ingatkah anda tentang  isu di awal tahun 2011, akan adanya kasus penculikan anak yang kemudian diambil organ-orang tubuhnya?  Antara benar atau  tidaknya  isu-isu tersebut, sebagai orang tua, tentu kita tidak ingin buah hati kita menjadi salah satu korban tindak kejahatan. Salah satu yang paling rentan terjadi pada anak-anak adalah tindak kejahatan penculikan. Salah satu sasaran empuk yang sering menjadi incaran para pelaku penculikan adalah sekolah. Sebelum mereka memilih target, tentu saja mereka sudah terlebih dahulu mempelajari tingkat keamanan sekolah. 
    Bila seorang pelaku penculikan tahu kalau ada sebuah sekolah yang tingkat keamanannya sangat lemah, tentu saja itu bisa menjadi sasaran empuk. Maka sebelum semua itu terjadi, saya akan memberikan beberapa tips supaya sekolah kita selalu aman dari segala bentuk tindak kejahatan yang berhubungan dengan kasus penculikan anak.

    1. Komunikasi
    Sistem keamanan seperti ini tidak hanya merupakan tugas dari pihak satpam, sekuriti, ataupun petugas keamanan lainnya. Sistem keamanan yang baik sangat membutuhkan partisipasi dari  segenap aparatur sekolah. Mulai dari orang  tua, guru, siswa, dan pihak petugas keamanan. Komunikasi antara keempat  komponen sekolah harus terjalin dengan baik. Semua  warga sekolah harus saling mengenal satu sama lain, terutama pihak keamanan, mereka harus mengenal setiap penghuni sekolah dengan baik. Minimal mereka mengenal  wajah masing-masih siswa.

    2. Kartu Pengenal
    Pihak sekolah wajib (terutama sekolah-sekolah yang besar dan memiliki jumlah siswa yang banyak) menyediakan kartu pengenal. Kartu pengenal ini berfungsi sebagai kartu pengenal bagi setiap warga sekolah. Bagi tamu  yang hendak memasuki sekolah pun, setelah diwawancarai  secara singkat oleh pihak keamanan, wajib diberikan kartu  pengenal sebagai “tamu”. Tentu saja pihak keamanan yang berada di dalam sekolah pun harus cermat, bila ada orang asing yang memasuki area sekolah. Pastikan orang tersebut  sudah mengenakan kartu pengenal sebagai “tamu”. Selain itu, pihak sekolah juga  wajib menyediakan kartu kemputan. Sehingga siapa pun orang yang  menjemput, pihak sekolah tidak perlu  menaruh curiga bila orang yang menjemput  membawa kartu jemputan yang akan ditunjukkan saat  anak akan “diambil”.

    3. Himbauan dari sekolah pada orang tua
    Himbauan dari sekolah ini juga sangat penting, dan wajib dipatuhi oleh orang tua. Sekolah wajib mengetahui  alamat  rumah dan telepon orang tua yang biasanya didapatkan saat anak mendaftar di sekolah. Bila perlu pastikan sekolah menghimbau pada orang tua untuk memasukkan kartu nama atau  catatan kecil  yang bertuliskan telepon orang tua dan alamat rumah, suapaya  bila ada halangan dalam hal penjemputan pihak sekolah bisa dengan cepat  menghubungi orang tua atau mengantar anak pulang ke rumah. Pihak sekolah juga menghimbau kepada orang tua, bila ada orang lain (bukan orang tua, sopir, dan orang yang biasa menjemput) yang akan menjemput sang anak, untuk segera memberikan informasi  kepada sekolah secepatnya. Supaya pihak sekolah juga tidak khawatir atau curiga bila ada orang asing yang menjemputnya.  Jadi kalau menurut saya, kalau orang yang biasa menjemput  berhalangan, pihak orang tua wajib memberikan informasi kepada pihak sekolah saat  anak diantar ke sekolah. Pihak sekolah pun wajib menghimbau  kepada penjemput untuk tiba sebelum jam sekolah usai. Sehingga pengawasan dari guru ataupun pihak keamanan bisa lebih mudah. Karena ada beberapa kasus, jam sekolah usai pukul dua belas siang, namun anak dijemput  di atas jam dua sore. Tentu saja hal ini sangat merepotkan pihak sekolah.

    4. Himbauan dari  sekolah kepada anak
    Pihak sekolah menghimbau kepada tiap  anak untuk berpamitan kepada wali kelas bila mereka telah dijemput. Pihak orang tua pun wajib mengingatkan anaknya, supaya anaknya terbiasa untuk berpamitan kepada gurunya saat mereka akan pulang. Pihak sekolah juga wajib selalu  mengingatkan kepada anak didik, terutama sesaat sebelum pulang, untuk tidak boleh ikut  pada orang asing meski diiming-imingi barang atau makanan yang menarik, dan mengingatkan peraturan sekolah dalam hal jemputan (seperti yang sudah saya paparkan pada poin-poin yang lain). Karena anak-anak sering  lupa akan hal  ini,  dan kadang harus diingatkan secara rutin dan intens.

    5. Wali  kelas mengantar anaknya  sampai ke pintu keluar
    Hal ini  mungkin sangat  sepele, namun sangat  penting . Bila wali  kelas selalu setia menyertai anak-anak didiknya sampai  ke pintu keluar, dia bisa mengecek  siapa saja yang belum dijemput dan menasihatinya supaya menunggu di  ruang  tunggu dan memberikan himbauan-himbauan yang lain (seperti yang sudah ditulis di poin yang lain).

    6. Pihak sekolah menyediakan ruang tunggu.
    Pihak sekolah wajib menyediakan ruang tunggu bagi siswa yang belum dijemput. Ruang ini bisa berupa tempat  bermain ataupun perpustakaan. Sehingga anak yang belum dijemput tidak keluyuran nggak jelas, melainkan bisa memanfaatkan waktu di tempat  yang aman untuk belajar.

    7. Fasilitas Jemputan
    Fasilitas jemputan ini sangat penting untuk disediakan dari pihak sekolah. Mengapa? Karena kadang tidak ada orang tua yang tidak ada waktu  dan biaya (untuk bayar sopir pribdi dan membeli kendaraan sendiri)  untuk menjemput buah hatinya,  dan fasilitas jemputan dari  sekolah inilah jawabannya. Fasilitas ini tentu juga  bisa menjadi daya  tarik  buat  orang tua untuk  menyekolahkan anaknya  di sekolah  tersebut.

    Bila sekolah  anda memperhatikan semua poin di atas, tentu akan sangat  baik.  Tapi tentu saja semua kembali pada pihak sekolah sendiri untuk menentukan kebijakan. Karena setiap sekolah tentu memiliki kebijakan yang berbeda-beda, mengingat perbedaan ukuran gedung, fasilitas, kemampuan financial, jumlah  siswa, dan beberapa faktor yang lain. Bagaimana dengan sekolah anda?? Semoga sekolah anda selalu menjadi sekolah yang nyaman dan aman untuk anak-anak didiknya.


    Silakan Mempublikasikan Karya-karya Saya dengan mencantumkan: Karya Kak Zepe, lagu2anak.blogspot.com

    10 Kesalahan Orang Tua dalam Mendidik Anak - (Parenting Tips, nasihat keluarga - orang tua dan anak) By Kak Zepe

     10 Kesalahan Orang Tua  dalam  Mendidik  Anak

    fathers.com
    Orang tua biasanya merasa diri selalu  benar. Sehingga karena perasaan tersebut, orang tua menjadi tidak menyadari kalau diri mereka sering berbuat salah. Nah… Sekedar buat  introspeksi diri, mari kita mencoba memeriksa batin kita, apa saja kesalahan yang biasa dilakukan oleh orang tua kepada anak, dan kadang tidak kita sadari.

    1.Memposisikan anak sebagai miniature orang  dewasa
    Tidak mudah memang untuk memahami dunia anak-anak. Kadang kita terlalu  PD untuk memberikan suatu pekerjaan atau kewajiban kepada anak yang tidak sesuai  dengan porsi anak-anak. Misalnya adalah pada  saat  kita memaksa anak untuk bisa membaca atau menulis. Bagi orang  dewasa, menulis dan membaca itu memang mudah, karena tidak banyak mengeluarkan energy. Namun bagi anak-anak, tentu saja kegiatan mebaca atau menulis adalah kegiatan yang melelahkan dan membosankan. Bila buah hati kita  memang belum bisa atau belum cukup mampu  untuk menulis atau membaca, sebaiknya kita jangan memaksa mereka. Alangkah lebih baik kegiatan tersebut kita ganti dengan kegiatan yang  menyenangkan namun mendidik.

    2. Membentak atau  memarahi tanpa member alasan / motifnya.
    Yang namanya anak-anak pasti biasalah berbuat  salah. Mereka kan masih butuh banyak belajar dari pengalaman hidup sehari – hari. Sehingga kalau mereka berbuat  salah, alangkah lebih bijak bagi kita untuk memakluminya. Namun kadang kita sering  lupa, karena kalau yang namanya emosi  sudah di ubun-ubun, pasti sangat sulit dari yang namanya marah, dan bahkan kadang sambil membentak, dan mudah-mudahan tidak sampai  main tangan. Apakah   menurut  anda marah kepada anak adalah sesuatu yang  efektif dalam mendidik anak? Jawabannya adalah TIDAK. Karena sebenarnya yang  mereka butuhkan bukanlah perasaan takut , segan, atau perasaan bersalah saja. Yang mereka  butuhkan adalah nasihat yang berguna agar mereka tidak mengulangi  kesalahan yang sama dan bisa menjadi  pribadi yang lebih baik. Jadi kalau buah  hati  kita berbuat salah, alangkah lebih baik bagi kita untuk memberikan pengertian kepada mereka dengan baik, dan dengan penuh  kasih sayang. Dan apabila kita terlanjur membentak (karena sudah tidak tahan), maka langkah  selanjutnya adalah pendekatan kembali kepada anak. Kita berikan mereka alasan kita marah, dan menasihati  mereka.

    3. Menganggap anak adalah penerus cita-cita   orang tua.
    Mungkin karena terlalu terobsesi  dengan cita-cita  yang belum tercapai,  banyak orang tua yang  menempatkan anak sebagai generasi  penerus cita-cita mereka. Sebagai contohnya adalah  seorang  ayah yang memiliki gelar professor, doctor, MA, MM, MT, BA, dia menuntut  anaknya agar memiliki gelar yang  lebih  banyak lagi. Orang tua seperti ini biasanya merasa dirinya  sayang pada anaknya. Karena dia ingin anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik dari dirinya sendiri. Namun bila kita telaah  lebih jauh, model orang tua seperti ini biasanya lebih sayang pada dirinya sendiri, karena mereka kadang tidak merasa betapa anaknya merasa tersiksa saat anaknya berusaha untuk memenuhi  keinginan orang tuanya. Rasa gengsi  yang  tertanam di dalam hati sang ayah, membuat  sang  ayah  merasa malu  malu  bila anaknya tidak  bisa menjadi lebih dari dirinya dan menjadi orang yang biasa-biasa saja. Kalau anaknya memang  menyukai dan bisa menikmati  jalan hidup yang disediakan orang tuanya sih tidak apa-apa,  yang berbahaya biasanya  bila sang buah hati tidak “sreg” dengan bidang atau jalan yang dipilihkan oleh orang tuanya.

    4. Tidak pandai  menemukan bakat dan minat anak
    Banya orang tua, yang mungkin karena kesibukan mereka, tidak sempet mengenal buah hatinya  dari segi bakat dan minta mereka. Mereka biasanya  lebih menilai  prestasi  anak dari  nilai  raport anak-anaknya. Kalau nilai  raportnya baik, maka orang tua akan merasa bangga. Kalau  nilai  rapornya kurang baik, maka mereka akan kebakarang  jenggot. Padahal  disamping dilihat dari  nilai raport, setiap anak memiliki kemampuan yang unik, yang biasa disebut  dengan bakat. Padahal, semakin dini bakat itu  diasah, maka bakat  tersebut  akan menjadi  semakin mudah bertumbuh dan akan semakin berguna kelak pada saat mereka dewasa.

    5. Membanding-bandingkan dengan saudara kandungnya.
    Memiliki teladan yang baik tentu bukanlah hal  yang buruk. Apalagi bila sumber teladan tersebut adalah saudaranya  kandungnya sendiri. Yang menjadi masalah adalah pada saat kita menganakemaskan salah satu dari mereka. Tentu saja ini akan membawa pengaruh yang tidak baik, terutama pada pihak yang merasa dipandang lebih rendah. Walupun mungkin sang adik lebih cerdas dari kakaknya, jangan sampai kita memperlakukan sang adik menjadi terlalu istimewa dibandingkan dengan sang kakak. Sifat iri yang tumbuh di dalam hati sang kakak, bisa menjadi sebuah dendam yang berlarut dan bisa memicu pertengkaran diantara mereka kelak. So.. meski sang adik lebih cerdas dari sang kakak, alangkah lebih bijaksanya bagi kita untuk tetap memperlakukan mereka secara adil. Bila mereka bertengkar, kita harus bisa menjadi pembawa damai dan menemukan pihak yang bersalah secara adil. Jangan sampai  karena dia adalah anak emas, maka dalam berbagai hal dia harus mendapat segala yang baik.

    6. Komunikasi yang kurang berjalan baik
    Kesibukan orang tua juga biasa menjadi alasan dalam hal ini. Karena sibuk kerja untuk menimbun nafkah, maka orang tua menjadi  melupakan betapa pentingnya komunikasi antara orang tua dan anak.  Pada intinya, komunikasi  yang baik akan bisa menyelesaikan masalah-masalah yang biasa ada antara anak dan orang tua. Dan tentu saja hal ini juga untuk mengatasi  masalah kecil berkembang menjadi masalah yang besar.

    7. Terlalu memanjakan
    Saking sayangnya pada anak, kadang orang tua jatuh pada dosa “terlalu memanjakan anak”.  Dosa ini bisa membawa akibat yang tidak baik bagi buah  hatinya. Misalnya kedewasaan anak menjadi sulit  berkembang, mental anak menjadi  mudah nge-drop, sulit mandiri, mudah bergantung pada orang lain, dan masih banyak hal yang lain. Contoh yang lain lagi adalah pada saat   ada orang  tua yang  karena terlalu  sayangnya pada  anak selalu  membela anaknya. Sehingga pada saat anaknya ada masalah  pada anak  yang lain, dia akan membela buah hatinya secara habis-habisan,  tanpa bersikap  bijaksana dan tanpa peduli  apakah anaknya bersalah atau tidak. Bahaya banget  neh  yang sampai kaya  gini,

    8. Terlalu banyak  larangan.
    Saya memiliki teman seorang bunda. Pada waktu itu saya  melihat  anaknya sedang  bermain pasir  yang akan digunakan untuk membangun rumah tetangga  sebelah. Lalu  saya bertanya pada  beliau,”Bu… Kenapa  anda membiarkan Dinda bermain pasir?”  Dengan tenang bunda itu menjawab sambil  tertawa,”Yah… Siapa tahu dia berbakat  menjadi seorang  insinyur pertambangan.”  Yups…  Itulah  salah salah satu contoh sikap bijak dari  seorang bunda kepada anaknya.  Dia tidak  mau  bakat anaknya sulit berkembang karena larangan. Bermain pasir  memang bisa menimbulkan penyakit,  itu  bisa  terjadi bila sang anak tidak cuci  tangan sebelum makan.  Jadi  kalau  sang anak mau mencuci tangan  dan kaki, atau bahkan mandi,  terutama sebelum mereka makan, apa salahnya?

    9. Tidak memahami fase perkembangan pribadi anak
    Pola didik  anak tentu saja  akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan usia  anak. Sebagai orang tua  kita harus memahami  hal ini. Misalnya, kapan anak-anak boleh mengenal facebook, bila anak-anak sudah menggunakannya, kita harus tahu kapan dan sampai  kapan kita harus mendampingi mereka. Atau  kapan kita membantu anak-anak dalam hal pendidikan di sekolah, dan kapan kita harus bisa melepaskannya agar bisa mandiri. Perkembangan kepribadian tiap  anak memang berbeda-beda.  Yang pasti anda harus   tahu kapan HARUS menjadi PENGENAL, PENDAMPING, PEMBIMBING, dan PENGAMAT. Pengenal adalah pada saat  anda mengenalkan pada hal-hal yang baru. Pendamping adalah  saat dimana anda harus mendampingi mereka agar bisa meneladani  kita. Pembimbing adalah saat dimana kita akan lebih banyak membimbing mereka dengan lebih banyak member nasihat daripada menemani  mereka.  Dan pengamat adalah saat  dimana kita cukup  melihat  perkembangan mereka dan memberi masukan saat berbuat  salah. Yang  pasti jangan sampai kita terlalu  cuek atau terlalu  mem-protek mereka.

    10. Bertengkar di depan anak-anak
    Ini dia yang sering tidak kita sadari. Bertengkar itu biasa di dalam sebuah kehidupan rumah tangga. Namun berusahalah untuk tidak bertengkar di depan anak-anak. Karena pada saat kita emosi, biasanya akan keluar kata-kata yang belum pantas sidengar anak-anak. Dan dengan bertengkar di depan anak-anak, kita juga mengajarkan anak-anak untuk selalu menyelesaikan masalah dengan cara panas lho...


    Silakan Mempublikasikan Karya-karya Saya dengan mencantumkan: Karya Kak Zepe, lagu2anak.blogspot.com

    10 Tips meningkatkan kreatifitas Anak (10 cara melatih, mengasah anak berpikir kreatif, 10 metode menstimulasi kreatifitas anak usia dini) By Kak Zepe

    Cara meningkatkan kreatifitas  Anak



    doctordisruption.com
    Sering kita menemukan seorang  anak  yang terlihat malas  di kelas atau memiliki nilai sekolah yang tidak terlalu  baik. Namun ada kalanya mereka bisa  mendapatkan nilai yang   melebihi teman-teman mereka satu  kelas, atau  memiliki sesuatu  kemampuan yang  tidak kita duga  dan tidak bisa  dilakukan oleh  anak-anak yang lain. Jadi bila anda menemukan seorang  anak  atau bahkan mungkin buah hati kita sendiri terlihat   “kurang pandai” jangan berkecil hati. Mungkin saja dia adalah  anak  yang  kreatif dan cerdas,  namun belum  terlatih  / terasah  dengan baik. Saya  percaya,  semua anak memiliki bakat  untuk menjadi  anak yang cerdas  dan kreatif.  Lalu bagaimana untuk bisa  melatih anak  agar bisa  menjadi  anak  yang cerdas dan kreatif? Mari kita ikuti  tips-tips di bawah ini:
    Ada 10 cara mengasah kreativitas anak, yaitu:


    1.  Berkreasi setiap  hari
    Untuk  menunjukkan kepedulian kita pada  sang  buah hati  dalam  berkreasi,  marilah kita ajarkan buah hati  kita  untuk membuat  sesuatu yang kreatif. Misalnya dengan  menggambar,  melipat  kertas,  bermain game ( porsi yang semestinya), bermain permainan-permaian edukatif,  bernyanyi,  bercerita, dan masih banyak lagi. Usahakanlah untuk bisa menemukan sesuatu  yang  baru  dan berbeda dari  apa yang pernah  dilakukan oleh  sang   buah  hati, sehingga  anak tidak merasa bosan dan terpacu  untuk lebih  berpikiran kreatif.

    2.Menggunakan ke dua sisi tubuh
    Hal ini   memang tidak lazim dilakukan.  Namun  bila buah hati  kita kita  latih  sejak  dini untuk melakukan hal ini,  maka hal ini akan sangat bermanfaat  di kemuadian  hari. Bagaimana caranya? Yaitu dengan melatih  anak melakukan sesuatu  menggunakan  kedua sisi  tubuh. Hal paling  sederhana yang bisa dilakukan adalah  dengan menggambar atau mewarnai menggunakan tangan yang  biasa  digunakan dalam  aktivitas sehari-hari.  Misalnya,  buah  hati  kita  biasa  menggunakan  tangan kanan  saat  melakukan aktivitas sehari-hari (menulis, sikat  gigi, makan,  dll). Maka kita ajari  mereka  menggunakan  tangan kiri saat  menggambar. Akan lebih baik  lagi bila dalam  aktivitas  sehari-hari  pun mereka juga terlatih untuk menggunakan tangan yang  bergantian.  Hal ini akan sangat bermanfaat untuk menyeimbangkan otak kanan dan kiri.

    3. Memiliki tokoh  yang bisa diteladani dan diidolakan
        Dengan memperkenalkan banyak  tokoh dunia  yang telah sukses, anak-anak  menjadi tahu  berbagai macam  kepribadian dan prestasi dari  orang  lain.  Hal ini sangat  penting. Kenapa? Karena anak-anak  suka sekali meniru orang lain. Tokoh-tokoh ini bisa seorang  pahlawan, penemu, rohaniwan, dan tokoh-tokoh lain yang  bisa menjadi teladan  buat sang  buah  hati.  Jangan sampai  buah hati kita hanya mengidolakan tokoh-tokoh kartun atau  film (seperti Tom and Jerry, Superman, Batman, dll). Hal ini memang tidak dilarang, namun  akan lebih  baik  bila tokoh-tokoh  tersebut adalah  seseorang yang nyata sehingga  bisa menumbuhkan motovasi  anak untuk meniru  hal-hal yang baik di dalam diri tokoh tersbut, lalu  diteladani dalam kehidupan  yang nyata.

    4.      Meningkatkan  perbedaharaan  kata  pada  anak
        Semakin  tinggi   perbedaharaan kata  anak,  maka seorang  anak akan menjadi  lebih mudah  dalam memahami  seseuatu.  Misalnya    pada saat   membaca. Bila buah  hati kita banyak  mengetahui makna  kata  yang  dia baca di dalam  sebuah  artikel,  maka  mereka akan lebih  mudah  memahami  isi artikel yang ia baca. Dengan  mengerti  isi artikel  yang ia  baca, maka pengetahuan si kecil pun  menjadi  lebih luas.

    5.      Melatih  kemapuan mendengar  anak
    Secara pribadi, sebagai  guru bahasa  Inggris, saya  sering  menggunakan media audio  sebagai media pembelajaran anak. Misalnya, dengan menggunakan Tape dan Laoudspeaker. Alat-alat tersebut saya gunakan saat melatih kemampuan mendengar anak-anak dalam  belajar bahasa  Inggris. Untuk melatih  penglihatan, mungkin akan lebih mudah karena pada saat  melihat  TV pun anak-anak sudah belajar mengerti sesuatu dengan indera penglihatan. Agar indera pendengaran  bisa  terlatih dengan baik,  alangkah  lebih baik bila kita sering-sering  mengajak anak untuk mendengarkan lagu atau cerita lalu  menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan lagu atau  cerita tersebut (misalnya dengan cara tebak-tebakan).

    6.  Menggunakan warna-warni  saat  bermain dan belajar
    Mengapa mainan anak-anak  berwarna-warni? Mungkin sebagian dari kita warna-warni hanya digunakan untuk  menarik minat  anak-anak untuk membeli  mainan yang ditawarkan. Namun sebenarnya  ada fungsi  lain yang lebih  bermanfaat. Warna-warni  yang  biasa dipakai  dalam mainan anak ternyata  juga  bisa mengaktifkan otak kanan.  Jadi pada saat  buah  hati  kita  belajar menulis,  menggambar, dan mewarnai, usahakan menggunakan pensil atau peralatan lain yang berwarna-warni.

    7.      Melatih   ketelitian anak
    Saat  anak  melihat sebuah  gambar jerapah,  akan lebih mudah bagi  anak  untuk mengatakan bahwa  itu  adalah seekor jerapah, daripada melihat kaki  jerapah  yang  panjang  dan meminta  anak menyebutkan alasan kenapa kaki jerapah  begitu  panjang. Mengapa hal ini sangat penting?  Karena dengan  membiasakan anak  untuk belajar  sesuatu secara  lebih  mendetail atau  kompleks, maka  anak-anak  akan menjadi  lebih  termotivasi  untuk “mengenal  secara lebih” tentang sesuatu yang sudah  mereka ketahui. Sehingga  kelak setelah  mereka dewasa, mereka tidak hanya tertarik untuk menggunakan sesuatu yang telah  ada,  namun menemukan hal-hal  baru  lain tentang sesuatu  yang  pernah  ia pakai dan menciptakan sesuatu  yang baru  lewat  sesuatu  yang telah  ada (semoga bahasanya bisa dipahami).

    8. Memberikan liburan yang kreatif
    Liburan yang kreatif tidak harus mahal, namun yang terpenting adalah sesuai dengan minat anak. Hal ini bahkan bisa dilakukan di rumah. Misalnya dengan berkebun, mendekorasi rumah, membuat kreasi pernik-pernik, dan masih banyak lagi. Bila perlu kita juga mengajak anak berlibur di luar rumah, misalnya ke tempat wisata yang memiliki permainan outbound. Anak-anak aktif biasanya akan menyukai hal ini, karena segala “emosi dan jiwa” mereka bisa tersalurkan dengan baik. Selain itu, dari pembinaan kakak outbound, anak akan mendapatkan banyak pelajaran tentang arti kerjasama, toleransi, sosialisasi, dan lain-lain. Anak aktif juga harus memiliki moral dan etika yang baik kan? Selain itu diperlukan juga….

    9.      Jangan terlalu  serius dalam mendidik
    Suasana keluarga yang terlalu  serius dan kaku, biasanya  juga kurang  mendukung  kreatifitas anak untuk bisa  berkembang. Gurauan  dan humor-humor kecil  sangatlah  penting  di dalam sebuah  keluarga. Kita bisa  mengajak buah hati  kita bercanda pada saat-saat santai,  membacakan cerita  humor,  menceritakan pengalaman  sehari-hari yang  lucu, dan masih  banyak lagi  cara lain yang bisa membuat  anak  merasa rileks saat  bertemu dengan orang  tuanya. Hal  ini juga  akan membuat  anak merasakan suka cita saat berada di  dalam  rumah, sehingga anak-anak kita pun bisa lebih ekspresif  terutama yang  berhubungan dengan kreatifitas yang  dia minati dan bakat yang dimiliki.

    10.      Melatih  kemampuan otak  kanan
        Dengan mengajak anak-anak  bernyanyi,  berpuisi, menggambar,  dan  berbagai   macam  kegiatan kreatif lainnya, kemapuan otak  kanan akan bekerja  dengan lebih  optimal.  Di sekolah,  biasanya anak-anak akan lebih cenderung menggunakan otak  kiri,  dan  bila kemampuan otak kanan dan kiri bisa bekerja dengan baik dan seimbang,  maka anak-anak  tidak hanya akan berpeluang mendapatkan prestasi  di bidang  akademisa saja,  melainkan bisa meraih prestasi-prestasi  di bidang yang  lain, misalnya kesenian.


    Silakan Mempublikasikan Karya-karya Saya dengan mencantumkan: Karya Kak Zepe, lagu2anak.blogspot.com